Jumat, 16 Oktober 2015

HASIL PENELITIAN TENTANG MANFAAT DAUN KELOR UNTUK MEMPERLANCAR ASI (Unv. Brawijaya)

RINGKASAN
Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan makanan lokal yang
memiliki potensi untuk dikembangkan dalam kuliner ibu menyusui, karena
mengandung senyawa fitosterol yang berfungsi meningkatkan dan memperlancar
produksi ASI (efek laktagogum). Secara teoritis, senyawa-senyawa yang mempunyai
efek laktagogum diantaranya adalah sterol. Sterol merupakan senyawa golongan
steroid (Nurmalasari, 2008).
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengukur kadar senyawa stigmasterol β-
sitosterol dan kampesterol daun kelor, sehingga dapat dijadikan dasar untuk
penanganan dan aplikasinya lebih lanjut pada produk pangan, khususnya pangan bagi
ibu menyusui, (2) mencari dosis tepung daun kelor yang tepat dalam meningkatkan
produksi air susu tikus putih galur wistar, sebagai langkah awal dalam mengembangkan
model makanan ibu menyusui.
Penelitian ini dirancang dalam 2 tahap yang saling terkait. Diawali dengan tahap
studi potensi daun kelor yang tumbuh di daerah Malang, selanjutnya dilakukan studi
tentang potensi daun kelor sebagai bahan makanan yang dapat meningkatkan produksi
air susu ibu (ASI), yang merupakan langkah awal dalam pengembangan model kuliner
bagi ibu menyusui yang menggunakan daun kelor.
Hasil survey awal mengenai keberadaan dan pemanfaatan daun kelor ditinjau
secara sosiobudaya yang dikumpulkan sebagai bahan untuk perancangan produk bagi
ibu hamil dan menyusui di beberapa tempat, yaitu di Batu, Tumpang, Dampit, Junrejo
dan Karangploso, diperoleh beberapa hasil berikut ini: (a) Daun kelor lebih banyak
dimanfaatkan untuk memandikan jenazah, meluruhkan “ajimat”. Hal tersebut
berdampak pada “tabu” untuk memanfaatkan daun kelor. Hal ini diduga karena di
Indonesia, khususnya di Malang kurang informasi tentang khasiat daun kelor sebagai
pelancar ASI, sulitnya buku referensi lokal yang membahas secara khusus mengenai
tanaman kelor dan kegunaannya, tanaman Kelor sangat jarang dibahas dalam forum-
forum ilmiah maupun media masa, terbatasnya model kuliner yang memanfaatkan daun
kelor. Selain itu, faktor sosiobudaya sangat mempengaruhi konsumsi daun Kelor; (b)
Daun kelor dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga ada pandangan inferior
terhadap bahan makanan tersebut; (c) Hanya sedikit masyarakat yang memanfaatkan
daun kelor sebagai sayuran. Kalaupun dimanfaatkan hanya diolah sebagai sayur
bening saja dan (d) Masyarakat lebih banyak memanfaatkan buahnya sebagai sayuran.
Sebelum dilakukan uji kadar steroid pada tepung daun kelor, dilakukan
perlakuan pendahuluan awal pembuatan tepung terlebih dahulu. Perlakuan tersebut
berupa perlakuan blansing yang berbeda, yang meliputi rebus, kukus dan rebus+soda
kue. Hal ini dilakukan karena dalam pembuatan tepung akan terjadi perubahan sifat
organoleptil, kadar gizi yang tidak dikehendaki.
Berdasarkan hasil uji secara kualitatif tepung daun kelor terbentuk warna biru
ungu yang menandakan adanya kandungan senyawa steroid. Hasil tersebut diperkuat
dengan uji kuantitatif dengan menggunakan KCKT, menggunakan fase gerak methanol
: air (98 : 2) dengan kondisi elusi isokratik. Hasil yang diperoleh adalah: tepung daun
kelor dengan perlakuan awal blansing rebus memiliki kadar kampesterol 277,51 ppm,
stigmasterol 171,52 ppm. Tepung daun kelor dengan perlakuan awal blansing kukus
mengandung kampesterol 348,05 ppm, stigmasterol 2410 ppm dan β-sitosterol 3321,17
ppm. Sedangkan tepung daun kelor dengan perlakuan awal rebus+soda kue
mengandung kampesterol 278,81 ppm, stigmasterol 2113,43 ppm dan β-sitosterol
1635,95 ppm.
Hasil uji efek laktagogum pada tikus putih galur Wistar, diperoleh data sebagai
berikut: induk tikus yang diberi makanan tambahan tepung daun kelor dengan
perlakuan awal mencelur kukus melahirkan anak dengan rerata berat badan yaitu 5,6 g
pada pemberian dosis sonde seberat 42 mg/g bb induk tikus, 6,056 g pada pemberian
dosis sonde seberat 84 mg/g bb induk tikus dan 6,5 g pada pemberian dosis sonde
seberat 168 mg/g bb induk tikus. Sedangkan rerata peningkatan berat badan anak
tikus setelah umur 14 hari tertinggi pada anak tikus dari induk yang diberi sonde tepung
daun kelor dengan perlakuan awal mencelur kukus adalah 380,74% pada dosis 42;
500,9% pada dosis 84 dan 871,9% pada dosis 164 mg.
Simpulan dari hasil penelitian ini adalah : Daun kelor merupakan bahan makanan
yang dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Hasil penelitian menunjukan
pemberian tepung kelor dapat meningkatkan produksi air susu induk tikus secara
signifikan. Pemberian dosis mulai 42 mg/kg bb secara signifikan dapat membuat
sekresi air susu tikus ptuih meningkat dan berat badan anak tikus meningkat seiring
dengan meningkatknya dosis yang diberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar